Departemen Matematika UGM dan FINCAPES Akan Melakukan Kajian Risiko Finansial Banjir di Pontianak Melalui Pendekatan Aktuaria

Departemen Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada (UGM) memperkuat kontribusinya dalam penanganan risiko iklim melalui kolaborasi internasional FINCAPES (Flood Impacts, Carbon Pricing, and Ecosystem Sustainability). FINCAPES merupakan inisiatif responsif gender yang dipimpin University of Waterloo dan didukung pendanaan Pemerintah Kanada melalui Canada’s Indo-Pacific Strategy, dengan fokus memperkuat ketahanan banjir, mendorong solusi berbasis alam, serta memperkuat kebijakan iklim termasuk pembiayaan karbon.

Melalui tim aktuaria, UGM memulai kajian untuk menghitung kerugian dan dampak finansial banjir di Kota Pontianak agar perencanaan mitigasi dan pembangunan ke depan dapat disusun lebih terukur, berbasis risiko, dan didukung bukti yang kuat. Kajian ini merupakan kelanjutan dari kerja FINCAPES sebelumnya dalam pemodelan bahaya banjir (flood hazard modelling) dan kini diperluas untuk menjawab pertanyaan yang lebih praktis bagi pengambil kebijakan: bukan hanya “di mana banjir terjadi”, tetapi juga “berapa biaya banjir bagi kota dan warganya”, baik pada kondisi saat ini maupun di bawah skenario iklim masa depan.

Kegiatan ini ditandai dengan Kick-Off Meeting yang dibuka secara resmi oleh Wali Kota Pontianak, Ir. Edi Rusdi Kamtono, pada 15 Januari 2026, sekaligus menjadi awal pelaksanaan studi aktuaria untuk menghitung loss and damage akibat banjir. Dalam pernyataan yang disampaikan pada rangkaian kegiatan tersebut, Wali Kota menegaskan bahwa Pontianak merupakan kota dataran rendah yang dipengaruhi dinamika pasang-surut, curah hujan, dan penurunan muka tanah, sehingga risiko banjir cenderung meningkat. Pada Januari, beberapa wilayah dilaporkan mengalami banjir rob hingga dua kali, dengan ketinggian air mendekati dua meter; di sejumlah titik sepanjang Sungai Kapuas, air laut dapat masuk ke rumah warga, memicu kerusakan material, dan pada kondisi tertentu memaksa evakuasi, bahkan banjir dapat berulang keesokan harinya dan bertahan selama empat hingga lima hari berturut-turut.


Menurut Prof. Stefan Steiner selaku Principal Investigator FINCAPES, peta bahaya banjir penting untuk menunjukkan paparan (exposure), namun belum cukup untuk menghitung kerugian. Karena itu, analisis aktuaria diperlukan untuk menerjemahkan risiko fisik banjir menjadi dampak finansial yang terukur—informasi yang dibutuhkan untuk keputusan kebijakan, penyusunan anggaran, dan perencanaan ketahanan jangka panjang. Ia juga menjelaskan bahwa pendekatan FINCAPES dilakukan bertahap: pada 2025 FINCAPES memperkuat pemahaman publik melalui narasi yang berpusat pada manusia, dan kini menggabungkan skenario bahaya banjir dengan metode aktuaria untuk menghasilkan bukti yang dapat mendukung perencanaan kota berbasis risiko, investasi infrastruktur, serta strategi pembiayaan risiko bencana.

Selain pemaparan teknis mengenai risiko finansial, pertemuan tersebut juga menyoroti aspek inklusivitas melalui kerangka kerja FINCAPES GESEI (Gender Equality and Socio-Economic Inclusion) yang menekankan pentingnya menghitung kerugian non ekonomi. Hal ini mencakup diskusi mengenai dampak banjir terhadap kelompok perempuan, strategi penyelamatan alat usaha bagi warga, serta upaya menjaga keberlanjutan penghidupan pascabencana agar masyarakat tidak jatuh ke dalam kemiskinan. Diskusi juga berkembang pada identifikasi faktor risiko tambahan seperti perubahan tata guna lahan di hulu Sungai Kapuas yang memicu peningkatan sedimentasi dan pendangkalan Sungai.

Kick-Off Meeting tersebut diikuti sekitar 50 peserta dari unsur pemerintah daerah dan provinsi, institusi akademik, organisasi masyarakat sipil, kelompok komunitas, serta perwakilan sektor privat. Diskusi difokuskan pada kerangka aktuaria yang akan digunakan, kebutuhan dan kesiapan data, mekanisme koordinasi lintas institusi, serta cara memasukkan perspektif GESEI dalam desain survei dan analisis. Setelah pertemuan, dilaksanakan pelatihan bimbingan teknis selama satu hari untuk 15 enumerator dari Universitas Tanjungpura, dengan materi pengumpulan data lapangan, pengendalian mutu data, dan metode survei yang inklusif.

Secara keseluruhan, penguatan kajian bahaya banjir, pengembangan analisis kerugian secara aktuaria, serta peningkatan kesadaran publik berbasis komunitas mencerminkan langkah Kota Pontianak menuju tata kelola risiko banjir yang lebih terpadu. Pendekatan ini menghubungkan data ilmiah, pengetahuan lokal, dan pertimbangan keuangan sebagai dasar untuk perencanaan pembangunan kota yang lebih tangguh dan berkelanjutan. Hasil akhir dari penelitian ini diharapkan dapat mendukung pengambilan keputusan pemerintah dalam merumuskan strategi pembiayaan risiko bencana yang lebih tangguh bagi Kota Pontianak di masa depan dengan tetap mengintegrasikan data teknis aktuaria, pengetahuan lokal, serta aspek keadilan sosial.

Informasi Teknis Kajian:
Judul: Actuarial Calculation to Support Loss and Damage Modelling and Analysis in Pontianak, West Kalimantan, Indonesia
Personalia: Danang Teguh Qoyyimi, ASAI, Ph.D. (team lead and researcher); Dr. Nanang Susyanto, S.Si., M.Sc., M.Act.Sc. (researcher); Dr. Noorma Yulia Megawati, M.Sc, M.Act.Sc. (researcher); Restu Ananda Putra, S.Si., M.Aktr. (reseacher assisstant); Alzimna Badril Umam, S.Si., M.Sc. (reseacher assisstant); Devi Atirotun Muthohharoh, S.Aktr. (reseacher assisstant); Harindra Litsyachnaztyasia Berlian, S.Aktr. (research assisstant)
Durasi penelitian: 6 bulan (Januari – Juni 2026)

Kata kunci: dampak banjir, perubahan iklim, kerugian bencana, kerugian finansial banjir
Penulis: Harindra Litsyachnaztyasia Berlian
Foto: Alzimna Badril Umam